Rabu, 12 Juli 2017

ENJ 2017 TUJUAN KEPULAUAN BANGKA BELITUNG

TIM 3 KEPULAUAN BANGKA BELITUNG
No.
NIP
Nama
Email
No HP

1
ENJ2017KPP005626
Achmad Amri Dharma Wangsa
w.amridarma@gmail.com
087821993293

2
ENJ2017KPP001183
Albertus Diantoro Galih Saputro
albertusdiantoro@yahoo.co.id
085731666261

3
ENJ2017KPP008283
Alfiyati Rohmi
migigaw4@gmail.com
081327605157

4
ENJ2017KPP002507
Bahrul Alam
bahrulalam16@gmail.com
081911184799 / (0254)311681

5
ENJ2017KPP005717
Dwi Cahyani
cahya.azzahra@gmail.com
08562844577

6
ENJ2017KPP000100
Eko Deddy Novianto
deddyeko54@yahoo.com
085250616840

7
ENJ2017KPP006939
Ellyzabeth Christianty Nainggolan
ellyzabeth.christianty1002@students.unila.ac.id
082281286769

8
ENJ2017KPP003895
Ferry Wirawan
wirawanferry@yahoo.co.id
081287932207

9
ENJ2017KPP009369
Ghassani Auliannisa Widjajati
gasaniaulia30@yahoo.com
082213860633

10
ENJ2017KPP005582
Gunplawan Lumban Tobing
gunplawan_tobing@yahoo.com
081361336014

11
ENJ2017KPP000706
Hajarul Aswadi F
hajarul.95@gmail.com
082183787550

12
ENJ2017KPP000545
Iskandar
himber.lakea1234@gmail.com
081254542859

13
ENJ2017KPP003218
Ita Pratiwi Simangunsong
itapratiwi88@gmail.com
082218327718

14
ENJ2017KPP011752
Khalil Nurul Islam
kekasihnyaallah@gmail.com
082290015145

15
ENJ2017KPP007540
Lamsan Rajagukguk
lamsan22_rajagukguk@yahoo.com
081375557723

16
ENJ2017KPP010547
M. Rohiman
muhammadrohiman.bta@gmail.com
085764321619

17
ENJ2017KPP000255
Masirwan
masirwan507@gmail.com
081275572425

18
ENJ2017KPP000290
Megi Hermanto
hermantomegi@yahoo.co.id
085709002193

19
ENJ2017KPP004169
Mida Gita Fitria
midagita@gmail.com
089662471502

20
ENJ2017KPP011095
Modiseren Nusabela
dimaskurkur@gmail.com
083150376185

21
ENJ2017KPP006464
Moh.Fachrul Rozzi
fachrulrozzi01@gmail.com
089628376951

22
ENJ2017KPP001383
Monica Eka Satriyani
ekasmonica@gmail.com
085732203598

23
ENJ2017KPP008585
Muhamad Resa Wicaksono
muhamadresawicaksono@gmail.com
089646670618

24
ENJ2017KPP000900
Muhammad Nur Arifin
arifinx04@gmail.com
089627510523

25
ENJ2017KPP012115
Nurwakhid Yulianto
wakhied4one@gmail.com
082185577868

26
ENJ2017KPP010042
Pipiet Alifah
pipietyalifah@gmail.com
087832104686

27
ENJ2017KPP001963
Putri Monalisa
llyphy@gmail.com
082380803790

28
ENJ2017KPP006148
Ruthya P D Aruan
ruthya98@gmail.com
081375739887

29
ENJ2017KPP008355
Saad Fajrul Aziz
saadfajrul@yahoo.com
081225141365

30
ENJ2017KPP006975
Salwa Kurniawidyawati
salwaakw16@gmail.com
082177004148

31
ENJ2017KPP007570
Sasmafera Afrianti
sasmaferaafrianti846@gmail.com
081271566072

32
ENJ2017KPP009933
Septy Heltria
septyheltria19@gmail.com
085367907781

33
ENJ2017KPP006027
Zainul Hudda
zainulhudda@ymail.com
083878212051

Kamis, 08 Juni 2017

Dialog Antar Agama dalam Pandangan Islam

Dialog Antar Agama dalam Pandangan Islam
Apa sebenarnya defenisi dari agama ? pertanyaan yang masih butuh disempurnakan jawabannya, jawaban beragam yang masih perlu ditarik benang merahnya, benang merah yang masih perlu dicari sumber keautitentikannya.
        Dialog identik dengan percakapan antara dua orang atau lebih. Dalam penempatannya, kata dialog ini berbeda dengan diskusi dan debat. Dalam dialog menurut Dono Baswardono, kita berusaha untuk memperluas perspetif kita sendiri, menunjukkan bidang bidang yang bertentangan, dan menemukan makna bersama. Jika makna dari dialog demikian, lalu bagaimanakah Islam memandang Dialog yang dilakukan antara Islam dengan non Islam, bila kita ingin membahas tentang pandangan islam berarti kita kembali kepada kitab al-Qur’an dan Hadis, akan tetapi ketika telah terjadi penafsiran dan pensyarahan terhadap dua sumber rujukan tersebut berarti kita berbicara tentang bagaimana pemikiran orang islam dengan penafsiran dan pemaknanan mereka terhadap al-Qur’an dan Hadis.
          Dialog dalam al-Qur’an, terbagi kepada dua macam yaitu percakapan yang hanya berusaha mengalahkan pihak lawan disebut debat, sedangkan percakapan yang dibarengi dengan cara yang baik itulah yang disebut dialog, dalam Qur’an surah al-Nahl 16/125 Allah swt. berfirman :
ادْعُ إِلى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Terjemahannya :
serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmahdan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dan juga dalam Qur’an surah al-Ankabut ayat 46
وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ وَقُولُوا آمَنَّا بِالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَأُنْزِلَ إِلَيْكُمْ وَإِلَهُنَا وَإِلَهُكُمْ وَاحِدٌ وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ
Terjemahannya :
 dan janganlah kamu berdebat denganAhli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka, dan Katakanlah: "Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada Kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan Kami dan Tuhanmu adalah satu; dan Kami hanya kepada-Nya berserah diri".
Jadi dalam al-Qur’an dialog biasa menggunakan kata جادل  (jaadala), lalu bagaimanakah kaum islam memaknai ayat tersebut ?
Penafsiran atau pemaknaan dari kaum Islam terhadap ayat tersebut Diantara dalam kitab tafsir al wasith lil Qur’anil karim yang ditulis oleh kumpulan Ulama di al-Azhar ayat dari surah al-Ankabut itu ditafsirkan sebagai berikut ;
“Bahwa ayat ini merupakan gaya atau metode berdialog dengan ahlul kitab, dengan makna  kita tidak boleh berdialog dengan ahli kitab dari Yahudi dan Nasrani, tidak boleh berdebat dalam berbagai persoalan agama, dan menyerukan kepada iman kecuali itu dilakukan dengan cara yang terbaik, seperti menghadapi perdebatan yang keras atau kasar dengan cara kelembutan (kemurahan hati), dan berhadapan dengan perdebatan yang mengandung kemarahan dengan cara menahan atau meredamnya, Serta perdebatan yang mengandung kerusuhan dengan cara memberi saran atau nasihat dan adapun intensitasnya dengan penuh kesabaran , seperti pada surah al-Nahal ayat 125 sebelumnya yang telah kami sebutkan dan juga firman Allah swt dalam surah Thaha yang ditujukan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika memerintahkannya menemui Fira’un :
فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

Terjemahannya;
Maka sampaikanlah dengan perkataan yang lembut mudah-mudahan dia ( fir’aun) menjadi sadar dan menjadi takut.
Dan pemaknaan  إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُم maknanya kecuali terhadap mereka yang telah melampaui batas menzalimi kalian dan terlampau keras kepala, menyerang kalian, dan kelembutan tidak berperngaruh terhadap mereka, maka tidak ada kesalahan bagi kita dalam bertindak kasar tapi tidak sampai kepada peperangan karena surah ini turun sebelum adanya izin memerangi kaum musyrik.”
        Jadi dapat kita simpulkan bahwa dalam Agama Islam, berdialog dengan orang yang berbeda agama itu boleh,  bahkan dalam Islam itu ketika berdialog lebih mungutamakan dan mengedepankan sifat lemah lembut, kasih sayang dan toleransi, sehingga pantaslah Islam disebut sebagai Agama yang penuh kasih sayang terhadap seluruh alam.
Tugas Final Sejarah Agama Agama
Oleh : Khalil Nurul Islam
Nim : 30700115027

Rabu, 07 Juni 2017

mkaalahku


PEMBAHARUAN DI INDONESIA; KAUM PADRI, KAUM AL-IRSYAD DAN JAMI`ATUL KHAIR








Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Mata Kuliah
Tafsir Ibadah dan Pemerintahan
Oleh
KHALIL NURUL ISLAM
NIM : 30700115027


FAKULTAS USHULUDDIN FILSAFAT DAN POLITIK
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
2017
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami persembahkan kepada kehadiran Tuhan semesta alam yaitu Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga kegiatan penulisan makalah ini dapat berjalan dengan baik, meskipun , terdapat beberapa kendala dari penulisan ini yang menunjukkan keterbatasan kapasitas kami sebagai seorang manusia. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan umat Islam pembawa risalah kebenaran yaitu Rasulullah Muhammad saw.
Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada pembimbing kami yang telah memberikan tugas kepada kami yang sekaligus kami dididik dan dilatih untuk jauh lebih  berkualitas dan profesional sesuai bidang studi kami  di dalam dunia perkuliahan.
Kami juga meminta maaf atas kesalahan dan kekeliruan yang terdapat dalam penulisan makalah kami .Oleh karena itu , kami meminta saran dan kritikan yang akan membawa kami menuju kearah yang lebih baik.






BAB I
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Pembaharuan
Pembaruan atau pemurnian dalam bahasa Arab “جددوا “ yang secara etimologi berakar pada kata (جديد ), yang menunjukan kepada tiga arti pokok : (1) keagungan, (2) bahagian, (3) pegangan. Kata ini kemudian berubah menjadi ( جدد ) yang berarti “memperbaharui” sebagai lawan dari usang. Kata “baru” dalam konteks bahasan ini, menghimpun tiga pengertian yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, yakni : (1) barang yang diperbaharui pada mulanya pernah ada dan pernah dialami orang lain; (2) barang itu dilanda zaman sehingga menjadi usang dan ketinggalan zaman; (3) barang itu kembali diaktualkan dalam bentuk kreasi baru.
Dalam bahasa Indonesia telah selalu dipakai kata pembaharuan, modern, modernisasi dan modernisme, seperti yang terdapat umpamanya dalam ”aliran-aliran modern dalam Islam” dan “Islam dan modernisasi”. Modernisme dalam masyarakat Barat mengandung arti fikiran, aliran, gerakan dan usaha untuk merubah faham-faham, adat-sistiadat, institusi-institusi lama, dan sebagainya, untuk disesuaikan dengan suasana yang ditimbulkan oleh kemajuan ilmu-pengetahuan dan tekhnologi modern. Sebagaimana halnya di dunia Barat, dunia Islam juga timbul pikiran dan gerakan untuk menyesuaikan faham-faham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu-pengetahuan dan tekhnologi modern itu.
Al-Qumi mendefinisikan tajdid sebagai menghidupkan kembali amalan al Quran dan al Sunnah yang pernah aktual dan menetapkan hukum suatu perbuatan berdasarkan kedua sumber tersebut. Sementara itu, Al-Qari menyatakan bahwa tajdid adalah membedakan antara sunnah dan bid’ah; memperjelas kandungan sunnah dan memuliakan ahlinya, serta menghancurkan bid’ah dan memerangi ahlinya.
Prof. Dr. H. Harun Nasution mendefenisikan Pembaruan Islam adalah upaya-upaya untuk menyesuaikan paham keagamaan Islam dengan perkembangan baru yang ditimbulkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi modern. Dengan demikian menurutnya bahwa pembaruan dalam Islam bukan berarti mengubah, mengurangi atau menambah teks Alquran maupun teks Al-Hadis, melainkan hanya mengubah atau menyesuaikan paham atas keduanya sesuai dengan perkembangan zaman.
Hal ini dilakukan karena betapapun hebatnya paham-paham yang dihasilkan para ulama atau pakar di zaman lampau itu, tetap ada kekurangannya dan selalu dipengaruhi oleh kecenderungan, pengetahuan, situasi sosial, dan lain sebagainya. Paham-paham tersebut untuk di masa sekarang munkin masih banyak yang relevan dan masih dapat digunakan. Tetapi mungkin sudah banyak yang tidak sesuai lagi. Selain itu pembaruan dalam Islam dapat pula berarti mengubah keadaan umat agar mengikuti ajaran yang teradapat di dalam Alquran dan Al-Sunnah. Hal ini perlu dilakukan, karena terjadi kesenjangan antara yang dikehendaki Alquran dengan kenyataan yang terjadi di masyarakat.
Dengan demikian, tajdid (pembaruan) adalah sesuatu yang pernah aktual pada awalnya, tetapi karena perkembangan waktu, sesuatu tidak menjadi baru lagi dan untuk mengaktualisasikan kembali harus mengacu pada konteksnya semula. 
B.   Kaum Paderi
Istilah Padri sebenarnya bukan berasal dari terminologi Minangkabau dan dalam literatur-literatur tradisional Minangkabau tidak ditemukan penggunaan istilah tersebut. Oleh karena itu, istilah padri tidak mendapatkan pengertian yang jelas bagi orang Minangkabau sendiri. Satu sumber menyatakan bahwa padri berasal dari bahasa Portugis yang berarti bapak yakni sebutan yang ditujukan kepada pendeta. Christine Dobbin, sebagaimana dikutip oleh Sjafnir (Nain, 1988:25), menyebutkan bahwa istilah padri berasal dari kata Pedir yakni nama sebuah pelabuhan (syahbandar) di pesisir utara Aceh tempat transitnya calon-calon jama’ah haji Indonesia sebelum berangkat ke Mekkah. Menurut Schrieke– Padri adalah istilah yang dilekatkan kepada golongan ulama atau golongan agama pada awal-awal abad ke-19 di Minangkabau (Schiereke,1973:12). Dalam literatur tradisional Minangkabau hanya terdapat istilah kaum putih dan kaum hitam. Istilah kaum putih adalah sebutan yang digunakan untuk kaum agama, sedangkan kaum hitam digunakan untuk menyebut kaum adat. Istilah Padri dalam tulisan ini mengikut kepada pendapat Schrieke.s
Tujuan utama Dakwah Syaikh ini adalah Kembali kepada Tauhid dan mengikis habis perbuatan-perbuatan bid’ah dan menanamkan kepada masyarakat suatu keyakinan kepada Al Qur’an dan Hadis sebagai satu-satunya pegangan hidup. Oleh karena itu mereka menentang keras praktek sufisme yang menjadikan guru-guru mereka sebagai perantara dalam bermunajat kepada Allah (tawassul).
Kejadian-kejadian di Tanah Hejaz itu sangat berkesan di hati tiga orang haji Minangkabau yang kembali ke kampung halaman pada tahun 1803 yakni Haji Piobang dari Lima Puluh Koto, Haji Sumanik dari Tanah Datar, dan Haji Miskin dari Agam. Selama berada di Mekkah ketiga orang haji putra asli Minangkabau yang kemudian dikenal sebagai pelopor Gerakan Padri ini menyaksikan langsung dikuasainya Kota Suci Mekkah oleh Pengikut Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahab atau setidak-tidaknya mereka memahami atau banyak dipengaruhi oleh Dakwah ini mengingat ajaran tersebut telah secara luas dibicarakan dikalangan umat Islam di Mekkah ketika itu. Sebagai penguasa Kota Mekkah, tentu saja Pengikut Dakwah Syaikh ini tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mensosialisasikan dakwah salaf ini kepada para jama’ah haji di Mekkah tidak kecuali yang berasal dari Minangkabau. Berangkat dari fenomena inilah, banyak penulis-penulis sejarah Minangkabau yang menyebutkan adanya pengaruh Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dalam Gerakan Padri.[1]
Gerakan Padri merupakan pergerakan keagamaan yang terinspirasi oleh gerakan Wahabi yang ada di Tanah Suci. Gerakan ini pada awalanya merupakan gerakan pembaharuan(modernis) diawal abad 18, yang dilakukan oleh Tuanku Nan Tuo dan murid-muridnya di Surau Kuto Tuo, Agam. Kemunculan gerakan ini merupakan reaksi balik atas pengalaman agama yang dilakukan kaum adat yang menyimpang dari ajaran Islam. gerakan ini kemudian mendapat sambutan dari para Ulama”Tiga Serangkai”Minangkabau, sekembalinya mereka dari Mekkah pada tahun 1803 M. Dalam melaksanakan dakwahnya yang berupaya mengikis khurafat dan bid’ah dalam praktek beragama umat Minangkabau, gerakan ini mengambil pendekatan keras dan radikal.
Dengan membawa semangat pembaharuan gerakan Wahabi, mereka berusaha untuk mengikis habis praktik-praktik adat dari unsur khurafat dan bid’ah. Upaya ini dilakukan baik melalui pelaksanaan pendidikian salaf di surau-surau, maupun langsung berdebat secara frontal dengan kaum adat. Uapaya dakwah yang demikian kurang disenangi, bahkan mendapat tantangan keras dari kaum adat yang berfikiran ortodok[1].
Pelaksanaan pemurnian yang dibawa para Ulama Minangkabau tidak berjalan mulus. Bahkan dalam melaksanakan dakwahnya, para Ulama Minangkabau selalu berhadapan dengan kaum adat. Hal yang serupa umpamanya juga dialami oleh
H. Miskin. Melalui suratnya, ia mencoba melakuakan serangkaian pembaharuan di Batu Tebal dan Pantai Sikat harus lari ke Lintau. Akan tetapi usahanya tersebuat mengalami hambatan. Padahal, berbagai pendekatan persuasif telah dilakukannya. Di antaranya, ia telah melakukan pendekatan dengan Penghulu Desa. Akan tetapi, ide pembaharuannya tetap ditolak oleh masyarakat setempat. Ketidaksenangan kaum adat terhadap kaum modernis dilampiaskan dengan cara menyerang dan membakar desa-desa di mana kaum modernis menyebarkan ide pembaharuannya. Akibatnya banyak di antara kaum modernis terpaksa menyelamatkan diri dari satu desa ke desa yang lain, hingga ke Bukit Kemang. Di daerah ini, kaum modernis mendapat perlindungan dari Tuanku Nan Renceh, seorang murid kesayangan Tuanku Nan Tuo, bahkan mendukung gerakan modernis dalam menyebarkan gerakan Wahabi. Di sinilah awal terbentuknya Gerakan Padri, dalam melaksanakanide pembaharuannya.
Karena sering mendapat tantangan dari kaum adat dan masyarakat setempat, kaum modernis tidak segan-segan melakukan penyerangan dan bahkan dengan membakar. Pendekatan ini akhirnya membuat Tuanku Nan Tuo tidak simpatik dan tidak mau menggunakan pengaruhnya untuk membantu perjuangan kaum Padri. Untuk itu, kaum Padri kemudian melakukan dukungan dengan para Ulama lainnya yang memiliki pengaruh dalam komunitas masyarakat Minangkabau, di antaranya Tuanku Mansianang.[2]
Paderi adalah sebuah nama didaerah padang. Yang mana didaerah inilah awal mulanya diterapkannya gerakan puritanisme di Indonesia. Gerakan puritanisme adalah sebuah gerakan pemurnian ajaran islam yang telah terpengaruh atau telah tercemari oleh ajaran-ajaran yang datang dari luar Islam. Gerakan ini pertama kali di plopori oleh Muhammad ibn Abdul Wahab, di Nejd. Berkat bantuan penguasa keluarga su`ud faham ini berkembang pesat diwilayah jazirah Arabia, bahkan sempat menggoyahkan pemerintah kerajaan Turki Usmani.
Gerakan puritanisme ini dibawa masuk kewilayah Indonesia oleh tiga orang kaum muda paderi yang baru pulang kembali dari tanah suci selepas melaksanakan ibadah haji, mereka itu adalah Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piobang pada tahun 1803 Masehi.
Mereka kemudian membentuk kelompok yang terkenal dengan kelompok Harimau Nan Salapan atau kaum muda Paderi mereka mengadakan penentangan terhadap praktek kehidupan beragama masyarakat Minang Kabau, yang telah terpengaruh oleh unsur-unsur tahayul, bid’ah, dan kurafat. Masyarakatnya sudah menyimpang jauh dari tradisi keagamaan yang telah ada. Perjudian, penyabungan ayam, dan sebagainya adalah contoh dari sebagian kecil perbuatan mereka yang waktu telah merupakan perbuatan atau suatu hal yang biasa.oleh karena itu, kedatangan tiga orang Haji ini, yang kemudian bersekutu dengan tuanku Nan Renceh dan tuanku Imam Bonjol, melakukan gerakan kemurnian ajaran Islam. Karena aktifitas mereka dianggap cukup membahayakan keberadaan kaum tua atau kaum adat paderi, maka kaum tua meminta bantuan Belanda pada tahun 1821-1937 M terjadilah perang paderi. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu kaum Ulama mengalami kekalahan Ulama dalam perang paderi dalam menghadapi
Belanda, bukanlah membuat patah semangat para tokoh pejuang pembaharu itu,tetapi gerakannya semakin hebat. Gerakan pembaharuan itu tidak lagi bersifat politik agama, tetapi dialihkan kedalam gerakan pembaharuan pendidikan.
Perang paderi dianggap sebagai pembaharuan Islam di karena tujuan dari perang paderi adalah memiliki kekuasaan yang kuat dan dengan memiliki kekuatan atas kekuasaan kaum ulama dapat menguatakan ajaran Islam yang telah banyak ditinggalkan. Kondisi pada saat itu daerah Minangkabau jauh dari apa yang Isalam ajarkan dan syariatkan oleh agama Islam .
Para Ulama giat mengadakan ceramah-ceramah, pengajian, mendirikan madrasah dan Pondok Pesantern yang diberi nama Sumatera Thawalib. Pengaruh gerakan ini lalu meluas keseluruh tanah air yang diikuti dengan bermunculannya berbagai organisasi Islam pada zaman pergerakan nasional di Indonesia pada abad ke-20 Masehi.[3]

C.   Al-Irsyad
Jika ditelusuri awal mulanya, munculnya Al-Irsyad dilatarbelakangi oleh terjadinya pertentangan dalam Jami’at Al-Khair, terkait persoalan konsep kafa’ah dalam pernikahan. Yakni, apakah mereka yang memiliki gelar sayyid boleh menikah dengan rakyat biasa atau tidak? Bagi masyarakat arab modernis, perkawinan semacam itu sah, akan tetapi menurut kaum tradisionalis, pernikahan itu dianggap tidak sah, karena salah satu syarat sahnya perkawinan adalah adanya kafa’ah antara kedua mempelai. Kalau syarat kafa’ah ini tidak terpenuhi maka perkawinan dianggap batal atau tidak sah.
Semula, perdebatan kafa’ah ini muncul pertama kali ketika Ahmad Surkati berkunjung ke Solo, tepatnya dalam suatu pertemuan di kediaman Al-Hamid dari keluarga Al-Azami. Pada saat menjamu Surkati ini terjadi pembicaraan tentang nasib seorang syarifah, yang karena tekanan ekonomi terpaksa hidup bersama seorang China di Solo. Surkati menyarankan agar dicarikan dana secukupnya untuk memisahkan kedua orang yang tengah kumpul kebo itu. Pilihan lain yang diajukan Surkati adalah hendaknya dicarikan seorang muslim yang ikhlas menikahi secara sah si Syarifah tersebut, agar ia bisa terlepas dari gelimang dosa.
Salah seorang yang hadir, Umar bin Said Sungkar bertanya pada Surkati: ”apakah yang demikian itu diperbolehkan menurut hukum ajaran agama Islam, sementara ada hukum yang mengharamkan karena tidak memenuhi syarat kafa’ah, meskipun syarat-syarat lainnya sudah terpenuhi”.
Setelah Surkati mengeluarkan fatwa tentang sahnya pernikahan yang tidak sekutu tersebut, kemudian terjadi pertentangan yang terkenal dengan ”Fatwa Solo”. Fatwa tersebut telah ”Mengguncang” masyarakat Arab golongan Alawi. Fatwa ini dianggap sebagai penghinaan besar terhadap kelompok mereka. Mereka menuntut kepada Surkati agar bersedia mencabut fatwanya, namun Surkati tetap mempertahankan fatwanya dan berusaha menghormati pendapat publik baik yang setuju maupun yang menolak.
Akibat telah mengeluarkan fatwa, pada tahun 1914 Ahmad Surkati dikeluarkan dari Jami’atul Al-Khair. Setelah dikeluarkan dari jami’atul Al-Khair dengan dibantu oleh Sayyid Saleh bin Ubaid Abdatu dan Sayyid Said Masya’bi untuk mendirikan madrasah Al-Irsyah Al-Islamiyah yang diresmikan pada tanggal 15 Syawal 1332 H. Bertepatan dengan 6 September 1914 dengan dia sendiri sebagai pimpinannya.
Tidak lama setelah Surkati dikeluarkan dari Jami’atu Al-Khair, keluar pula para guru yang berasal dari Makkah, baik yang datang bersama Surkati maupun yang datang atas jasa Surkati. Sebagian mereka kembali ke Makkah dan sebagian tetap tinggal di Indonesia dan bergabung dengan Al-Irsyad sampai akhir hayat mereka di Indonesia. Di antara mereka adalah: Abul Fadhel Muhammad Khair Al-Anshori yang tidak lain adalah saudara kandung Surkati, Syaikh Muhammad Nur Muhammad Khair Al-Anshori, dan lain sebagainya.
Izin untuk pembukaan dan pengelolaan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah berada ditangan dan atas nama Surkati. Berdasarkan ordonasi guru 1905 yang mengatur pendidikan islam, beban tanggung jawab Surkati akan ringan apabila Madrasah tersebut dinaungi oleh satu organisasi yang teratur dan memiliki status badan hukum. Maka disiapkanlah berdirinya Jami’iyyah Al-ishlah wa Al-irsyad Al-Arabiyyah, yang beberapa tahun kemudian diganti dengan nama Jami’iyyah Al-Ishlah wal Irsyad Al-Islamiyyah.
Masa formatif Al-Irsyad diawali sejak kelahirannya. Akte pendirian dan anggaran dasar Al-Irsyad disahkan oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda dengan nomor 47, tertanggal 11agustus 1915, dan disiarkan dalam surat kabar Javasche Courant Nomor 67, tertanggal 20 Agustus 1915. Keputusan ini kemudian menjadi izin resmi kelahiran organisasi ini, yaitu 19 Agustus 1915, dalam keputusan ini pula tercatat pengurus pertamanya, yaitu: Salim bin Awad Balweel sebagai ketua, Muhammad Ubaid Abud sebagai sekretaris, Said bin Salim Masya’bi sebagai bendahara, dan saleh bin Obeid bin Abdat sebagai penasehat.
Setelah peristiwa dikeluarkannya beslit dari Gubernur Jendral pada hari selasa tanggal 19 syawal 1333/31 Agustus 1915,maka diadakan rapat umum anggota.dalam rapat itu diputuskan susunan pengurus untuk kepentingan intern,yaitu;salim bin awad bal weel sebagai ketua, saleh bin obeid bin abdat sebagai wakil ketua,Muhammad Ubait Abut sebagai sekretaris,Said bin Salim Masy’abi sebagai bendahara.
Untuk lebih mendinamisasikan gerak dan langkah organisasi serta berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat,dalam kepengurusannya Al-Irsyad membentuk majelis-majelis yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda,antara lain;1. majelis pendidikan dan pengajaran;2,majelis dakwah;3,majelis sosial dan ekonomi ;4,Majelis wakaf dan yayasan;5 majelis wanita dan putri:6.majelis pemuda dan pelajar :7,majelis organisasi dan kelembagaan ;8,Majelis hubungan luar negri.
Periode perkembangan Al- Irsyad ditandai dengan pembukaan cabang-cabang Al -Irsyad dengan prioritas pertama pulau Jawa.Pada tanggal 29 Agustus 1917 Al- Irsyad membuka cabang yang pertama di Tegal,dengan diketahui oleh Ahmad Ali Bais.Pada tanggal 20 November 1917 di resmikan pula keputusan untuk pembukaan cabang Al -Irsyad kedua,yaitu di Pekalongan dengan ketua pertama kalinya Said Bin Salaim Sahaq,cabang Al Irsyad ketiga dibuka di Bumiayu pada tanggal 14 Oktober 1918,dengan ketuanya yang pertama adalah Husein Bin Muhammad Al Yazidi pada tanggal 31 Oktober 1918 Al Irsyad membuka cabang ke empat di cerebon,dengan ketua pertamanya Ali Awad Baharmuz.Tanggal 21 Januari 1919,dibuka cabang ke lima disurabaya. pembukaan cabang di Surabaya ini di nilai sebagai peristiwa amat penting dalam sejarah Al- Irsyad,karena kedudukan Surabaya waktu ini sebagai pusat kegiatan pergerakan islam dan tempat berdomisilinya para pemuka masyarakat muslim pada waktu itu. Cabang ini pertama kalinya di ketuain Oleh Muhammad bin Rayis bin Thaib
Pada periode berikutnya, setelah pulau jawa, Al irsyad semakin melebarkan saya at punya keluar jawa.Dari tahun 1927 sampai dengan tahun 1931 telah tercatat berdirinya cabang-cabang Al irsyad di lhokseumawhe Aceh , Menggala Lampung,Sungeiliat Bangka ,labuan haji dan talewang Nusa Tenggara Barat, Pemekasan, Probolinggo, Krian, Jombang, Bangil, Sepanjang, Semarang, Comal, Pemalang, Prowokerto, Indramayu, Cibadak, Sindang laya, dan Solo.sampai tahun 1970-an, cabang Al-Irsyad telah tersebar diseluruh propinsi Sulawesi Utara dan sekarang, hampir disetiap propinsi di Indonesian telah berdiri cabang Al-Irsyad.
Di masing-masing cabanh tersebut, didirikan pusat pendidikan bagi warga Al-Irsyad khususnya, dan masyarakat. Luas pada umumnya.oleh pendirinya,Ahmad Surkati pendidikan formal dipilih sebagai wahana yang tepat untuk menyemaikan dan mengembangkan gagasan-gagasan Al-Irsyad seban agaimana telah dicanangkan dalam Mabadi Al-Irsyad.
Konsistensi dan fokus gerakan terhadap bidang pendidikan formal tampaknya tetap mampu dipertahankan hingga saat ini kiprah al irsyad lebih banyak di fokuskan kepada pengembangan pendidiksn fornal,yang di harapkan mampu membentuk generasi irsyadi.
Jika diklasifikasikan,maka akan terlihat perbedaan perkembangan pendidikan al irsyad dari setiap periode,periode 1914sampai dengan1942 menunjukan adanya perkembangan yang cukup pesat,namun pada periode 1942-1961 terjadi kemunduran .baruhlah pada periode1961-1982,pendidikan Al-Irsyad mengalami kebangkitan kembalidengan di tandai pedirian sekolah-sekolah Al- Irsyad di berapah daerah ditanah air .perkembangan yang cepat terjadi pada periode 1982-1997.pada periode ini Al- Irsyad masih dan berhasil mendirikan lembaga pendidika berupa pesantren dan perguruan tinggi
Terdapat keunikan dari pengembangan pendidikan Al-Irsyad,yaitu dengan didirikannya pesantren pada tahun 80-an.Jika pada kelompok tradisional {Nahdlatul Ulama}muncul trend mengembangkan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah umum dan madrasah maka tidak demikian dengan ormas Al Irsyad (dan juga muhammdiyah)yang justeru mendirikan pesantren ,karena didorong oleh kesadaran perlunya memberikan perhatian yang besar pada aspek pendidikan agama.Namun demikian,tipologi pesantren Al Irsyad tetap memiliki perbedaan dengan pesantren milik ormas itu.
Jika pesantren itu didirikan oleh perorangan,maka pesantren Al Irsyad didirikan oleh Jam’iyyah (Organisasi),dengan manajement pesantren yang tidak bersifat kekeluargaan.kitab-kitab yang diajarkan dipesantren Al Irsyad,Meskipun sama-sama berbahasa arab,namun tidak tergolong kitab kuning seperti yang diajarkan dipesantren-pesantren itu.kitab-kitab tersebut ditulis oleh para ulama komtemporer di timur tengah.lebih dari itu,kesan lux juga terlihat pada pesantren-pesantren milik Al Irsyad,jika dibandingkan dengan pesantren-pesantren tradisional,Akibatnya biaya pendidikan pun menjadi mahal.
Bisa dikatakan bahwa dalam pengembangan pendidikan islam di Indonesia,Al Irsyad telah berhasil mempelopori pendirian lembaga-lembaga islam modoren,yang pada massa berikutnya di ikutin oleh ormas-ormas islam lain.Namun demikian,meskipun lembaga pendidikan Al Irsyad didirikan oleh organisasi yang merupakan representasi dari masyarakat keturunan arab,pribumi yang simpati dan bersekolah dilembaga-lembaga pendidikan Al Irsyad,baik sekolah pesantren maupun perguruan tingginya
Meskipun Al Irsyad didirikan tidak hanya oleh Ahmad sukarti,namun berbicara kontributor pemikiran untuk Al Irsyad sosok sukarti tetap menjadi fokus utama.Dia juga menjadi figur utama dan sentral yang tinggi kini gagasan-gagasannya masi dipakai dan menyemangati Al Irsyad.Berbicara tentang gagasan Sukarti,maka tidak salah lagi bahwasanya Sukarti mengadopsi pemikiran dari Muhammd abdul Wahab sebagai sang inspiratornya.
Jika dirunut,genealogi pemikiran keislaman Al Irsyad bermula dari kehadiran Ahmad Sukarti di Indonesia.saat itu,sukarti merasa menghadapi masyarakat yang memiliki kesamaan ciri dengan yang dihadapi Muhammad Abdul Wahab pada masanya.baik Sukarti maupan Abdul Wahab sama-sama dihadapkan pada persoalan yang sangat mendasar dalam agama islam,yakni Taulid kehadiran Sukarti di Indonesia,khususnya dikota Solo,membuat dia merasa prihatin dengan kemurnian ajaran tauhid yang berkembang dimasyarakat.Meskipun agama islam telah berkembang cukup lama di Indonesia,namun pengaruh Hindu-Budha maupun budaya lokal masih sangat kuat,apa lagi di kota Solo yang merupakan pusat situs kerajaan besar di Indonesia,tentu persinggungan islam dengan budaya setempat masih sangat insentif.
Meyikapi kondisi yang demikian,Ahmad Sukarti pernah menyampaikan beberapa pandangan tentang ketauhidan.Apa bila di bandingkan dengan pandangan Muhammad bin Abdul Wahab,maka terdapat kemiripan,sebagai contoh,Sukarti mempersoalkan Bid’ah sebagai berikut:
Pertama,Taklid buta sebagaimana yang dilakukan para ulama yang sebenarnya memiliki kemampuan untuk memahami Al-Quran dan Hadits.Namun mereka menjadikan pendapat seseorang sebagai dalill agama Sukarti menyatakan adapun taklid buta dan menjadikan pendapat orang sebagai dalill agama tidak diperbolehkan oleh allah dan rosull-nya,para sahabat maupun para ulama terdahulu,dan merupakan bid’ah yang sesat.
Kedua,meminta syafa”at . ia mengatakan kepada orang yang sudah mata dan bertawasuldenga Mereka ,surkati menyatakansebagaiperbuatan yang munkar dan bid”a ia menatakan :”meminta syafa”at kepada orang yang mati atau bertawasul kepada mereka adalah perbuatan munkar, sebab hal tersebut tidak pernah di kerjakan oleh rasulullah saw,al khulafa”al rasyidan ataupun oleh para mujtahid ,baik bertawasul dengan rasul sendiri atau dengan yang lain .selain itu ,hal tersebut merupakan sesuatu yang diada –adakan dalam ruang lingkup al din. Setiap yang baru dalam agama adalah bid ”ah ,setiap bid ah adalah sesat ,dan setiap yang sesat akan masuk neraka’’.
ketiga,dalam kasus pembayaran fidyah membayar sejumlah tebusan kepada orang lain untuk mengganti shalat dan puasa yang di tinggalkan oleh salah seorang anggota keluarganya,ketika menyampaikan fidyah seseorang berkata ;’’terimalah uang ini sebagai penebus shalat dan puasa si fulan ’’.kemudian si penerima menjawab ,’’saya terima pemberian ini ’’ .bagi surkarti,pembuatan ini dilarang karena tidak di dasarkan atas dasar dalil agama ,dan merupakan perbuatan bid’ah.
keempat,dalam kasus pembacaan talqin untuk mayat yang baru di kubur surkarti melihatnya sebagai pembuatan yang tidak bedasarkan tuntunan al qur’an dan hadits juga tidak ada petunjuk dari para sahabat
kelima,pembuatan berdiri pada saat melakukan pembacaan kisah maulid nabi muhammad saw,bagi surkarti bukan perbuatan agama,namun demikian,apa bila perbuatan tersebut di pandang sebagai perbuatan agama,atau termasuk dalam ruang lingkup agama,maka pembuatan tersebuttetap di anggap sebagai perbuatan bid’ah.
Keenam,pengucapan niat (Nawaitu atau Ushalli) bagi Sukarti adalah perbuatan bid’dah.Alasannya,melafalkan niat demikian dipadang sebagai tambahan dalam melaksanakan niat yang seharusnya merupakan maksud didalam hati.Menurut Sukarti pula,ia tidak pernah memperoleh petunjuk bahwa perbuatan tersebut pernah dirawihkan orang dari nabi Muhammad,atau dari para sahabat,walaupun diajarkan oleh salah satu imam yang keempat.Dari berbagai sumber rujukan dapat disimpulkan bahwa niat adalah maksud dalam hati lebih tidak beralasan lagi ialah pendapat tentang wajib atau sunnahnya pengucapan lafal niat tersebut.Itu berarti ”mewajibkan apa yang sebenarnya tidak wajib”.
Ketujuh, adat berkumpul untuk melakukan ritual tahlil dirumah orang yang baru ditimpah musibah kematian menurut Sukarti,merupakan perbuatan Bid’ah dan bertentangan dengan sunnah rasul.Sukarti menilai parbuatan tersebut sebagai perbuatan yang membebeni keluarga yang terkena musibah.Dan perbuatan terpuji yang berkenan dengan keluarga yang terkena musibah adalah penyediakan makanan,sebagaimana Sabda nabi Jafar bin Abi Thalib meninggal dunia.”Buatlah makanan bagi keluarga Jafar, ,sebab mereka telah ditimpa sesuatu yang membuat mereka lupa makan”.
Dan kedelapan,adat berdzikir bersama dan berdoaa bersama setelah shalat wajib lima waktu menurut surkarti, merupakan perbuatan bid’ah dan bertentangan dengan sunnah Rasul. Surkati menilai perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang mengada-ada dan menambah-nambah karena Rasulallah selesai sholat wajib lima waktu, langsung mengerjakan sholat sunnah ba’diah dirumah, tetapi kalau ada yang akan dia sampaikan maka dia berdiri lalu menyampaikannya ke umat Muslim.
Pendeknya, dari negara Sudan, Ahmad Surkati datang dengan membawa ”gagasan rasional”. Gagasan itulah yang kemudian memberi kontribusi besar bagi lahirnya Al-Irsyad Al-Islamiyyah, sebuah gerakan pembaharuan untuk memperbaiki pemahaman keberagaman muslim Indonesia.Deliar Noor menyatakan, seperti halnya seperti Modernis muslim Indonesia yang lain. Pemikiran-pemikiran yang berkembang di Al-Irsyad banyak dipengaruhi oleh pemikiran Puritanisme yang berkembang di Timur Tengah, yang diplopori oleh Muhammad bin Abdul Wahab (dengan gerakan Wahabinya), pemikiran tersebut secara intensif masuki Indonesia pada awal abad ke-20, melalui kontak personal antara masyarakat Arab di Indonesia dengan mereka yang berada di Timur Tengah, juga melaui penerbitan-penerbitan majalah, seperti majalah Al-Manar dan lain-lainnya.[4]
D.  Jami’atul Khair
Perkumpulan al-Jami’at Khairiyah (JK) di Jawa dapat dikatakan sebagai penggerakan Islam Baru yang pertama kali di pulau yang padat penduduknya itu.Ini terjadi pada tahun 1905. dari tempat itu pula  KH.A.Dahlan (1912), pemimpin pertama perkumpulan Muhammadiyah  dan orang-orang yang terpelajar lainnya mengenal bacaan-bacaan kaum reform yang didatangkan dari luar negeri .
Organisasi JK ini terbuka untuk setiap muslim tanpa diskriminasi asal, usul, tetapi mayoritas anggota-anggotanya orang Arab. Para pendiri; Sayyid Muhammad al-Fachir ibn Muhammad al-Masjhur, Sayid Muhammad ibn Abdullah ibn Nasrihab, Sayid Idris ibn Ahmad ibn Nasrihab dan Sayid Syech Syehan ibn Nasrihab , dan pemimpin-pemimpin organisasi ini umumnya terdiri dari orang-orang yang berada, yang memungkinkan penggunaan sebagian waktu mereka kepada organisasi tanpa merugikan usaha pencaharian nafkah.[5]
Dalam proses pendiriannya, Jami’atul khair mengalami banyak hambatan . berulangkali permohonan izin pengesahan diajukan kepada Gubernur Jendral W.Rooseboom, namun selalu ditolak. Penyebabnya tidak jelas pada tahun 1903 misalnya,permohonan izin diajukan, namun ditolak. Kemudian untuk meyakinkan pemerintah colonial Belanda, surat permohonan dikirim berulang kali dengan mencantumkan nama pemohonan yang berbeda, yaitu Said bin Ahmad Basandid dan Muhammad bin Abdurrahman Al-Masyhur.
Setelah lama menunggu, akhirnya izin pendirian Jami’atul khair dikeluarkan pada tanggal 17 Juni 1905, setelah permohonan disetujui oleh Gubernur Jendral J.V.Van Heutsz. Izin pendirian Jami’atul khair keluar disertai catatan dari pemerintah, bahwa Jami’atul khair tidak boleh mendirikan cabang diluar Jakarta.
Pengurus Jami’atul khair angkatan pertama terdiri dari Said bin Ahmad Basandid sebagai ketua, Muhammad bin Abdullah bin Shihab sebagai wakil ketua, Muhammad Al-Fakhir bin Abdurrahman masyhur sebagai sekretaris, dan Idrus bin Ahmad bin Shihab sebagai bendahara, setahun kemudian pengurus Jami’atul khair dirubah dan tersusun pegurus baru dengan Idrus Bin Abdullah Al-Masyhur sebagai ketua , Salim bin Ahmad Balwel sebagai wakil ketua, Muhammad Al-Fakhir bin Abdurrahmnan Al-Masyhur sebagai sekretaris, dan Idrus bin Ahmad bin Shihab sebagai bendahara.
Jami’atul khair semula mencantumkan tujuannya untuk menolong orang-orang Arab yang tinggal di Jakarta pada saat kemetian dan pesta perkawinan. Organisasi ini kemudian mendirikan sekolah pertama di Pekojan Jakarta. Beberapa tahun setelah itu, dibuka pula sekolah-sekolah di Krukut, Tanah Abang dan Bogor, pada bulan Rabiul Awal 1329 H, atau bulan Maret 1911 M.
Datanglah pengajar dari Makkah yang ditujukan untuk memperkuat staf penagajar pada sekolah-sekolah Jami’atul khair mereka adalah Syaikh Ahmad Surkati Al-Anshari ditempatkan disekolah Jami’atul khair di Pekojan dan sekaligus sebagai pemilik sekolah-sekolah Jami’atul khair lainnya.Syaikh Ahmad Tayyib Al-Maghribi ditempatkan disekolah Krukut dan syaikh Muhammad Abdul Hamid Al-Sudani ditempatkan di sekolah Jami’atul khair di Bogor.
Kemudian atas jasa seorang staf pimpinan Jami’atul khair, Abdullah Al-Attas, didatangkan pula seorang pengajar asak Tunis dan lulusan kulliyyah Azzaitun, yaitu Muhammad Al-Hasyimi, kemudian ditempat disekolah Jami’atul khair di Tanah Abang.
Muhammad Al-Hasyimi adalah seorang berkebangsaan Tunis yang pernah ikut memberontak melawan pemerintah Prancis, ia dikenal sebagai guru olahraga dan memiliki berbagai pengetahuan keterampilan, seperti memasak, membuat sabun dan lain sebagainya. Dialah yang pertama kali yang mengenalkan gerakan kepanduan dikalangan umat Islam Indonesia. dengan demikian ia mestinya disebut sebagai “bapak kepanduan Islam Indonesia”.
Dalam perkembangan berikutnya, Abdullah Al-Atas mengalami perselisihan dengan pengurus Jami’atul khair. Karena perselisihan itu dia memutuskan untuk meninggalkan Jami’atul khair, dan mendirikan Al-Atas school pada tahun 1912.langkah Abdullah Al-Atas ini diikuti oleh Al-Hasyimi dengan cara meninggalkan Jami’atul khair dan bergabung dengan Al-Atas Schcool. Namun ketika Al-Irsyad berdiri, dia meninggalkan Al-Atas school dan bergabung dengan Al-Irsyad serta menjadi guru pada sekolah Al-Irsyad.
Dua tahun kamudian, atas jasa Ahmad Surkati, didatangkan empat orang pengajar lagi, yaitu syaikh Ahmad Al-Aqib Assudani. Ditempatkan di sekolah Al-Khairyyah di Surabaya, syaikh Abul Fadhel Muhammad Assati Al-Anshari, saudara kandung Ahmad Surkati ditempatkan disekolah Jami’atul khair di Tanah Abang, syaikh Muhammad Nur Muhammad Khair An-Anshari ditempat disekolah Jami’atul khair di Pekojan dan Jami’atul khair di Krukut. Dalam perkembangan selanjutnya Syaikh Hasan Hamid Al-Anshari dipindahkan ke Bogor karena syaikh Muhammad Abdul Hamid Assudani kembali ke Negerinya.[6]
Jamiat Khair pada awalnya bergerak di sekolah dasar. Sekolah dasar Jam;iat Khair bukan semata-mata mempelajari pengetahuan agama tetapi juga mempelajari pengetahuan umum lainnya seperti lazimnya suatu sekolah dasar biasa, misalnya berhitung , sejarah kebudayaan islam, ilmu bumi, bahasa inggris dan sebagainya. Kurikulum sekolah dan jenjang kelas-kelas telah disusun dan terorganisir dan bahasa pengantar yang dipergunakan untuk mengajar dan setiap harinya yaitu bahasa Indonesia dan bahasa melayu.
Untuk memenuhi tenaga guru yang berkualitas Jam’iat Khair mendatangkan guru-guru dari daerah sendiri ataupun daerah luar negri, salah satunya yaitu Haji Muhammad Mansyur (1907) seorang guru dari padang di minta untuk mengajar di sekolah Jam’iat Khair karena beliau berpengetahuan yang luas baik dalam bidang agama maupun bahasa terutama bahasa melayu. Dan al- Hasyimi di datingkan dari Tunisia sekitar tahun 1911 yang di samping mengajar juga memperkenalkan gerakan kepanduan dan olah raga di lingkungan sekolah Jam’iat Khair.

Pada bulan Desember 1923 (Jumadil Awal1342) didirikan gedung Jam’iat Khair di Tanah Abang yang mempunyai 8 lokal. Kemudian ditambah 2 lokal, sehingga menjadi 10 lokal.
Mereka yang yang telah di anggap lulus dari Tsanawiyah dapat menyambung pelajarannya ke Mesir atu ke Mekah. Dan untuk zaman sekarang tinggal di tambah dengan bagian P.G.A. Pertama lamanya 4 tahun (Menurut rencana japenda), yang di terima masuk Tsanawiyah ialah murid-murid tamatan Ibtidaiyah dan yang diterima P.G.A. ialah murid-murid tamatan S.R.
Jamiatul Khair terdiri beberapa tingkat yaitu :
a.       Tingkat tahdiriah lamanya 1 tahun.
b.      Tingkat ibtidaiyah lamanya 6 tahun.
c.       Tingkat tsanawiyah lamanya 3 tahun.

Jamiatul Khair banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah. Organisasi ini juga melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan tokoh-tokoh pergerakan dan surat kabar luar negeri. Dengan demikian kabar-kabar mengenai kekejaman penjajah Belanda di Indonesia dapat sampai ke dunia luar, antara lain karena melalui Jamiatul Khair. Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang berperan besar dalam penaklukan Aceh, dengan terang-terangan bahkan menuding Jamiatul Khair membahayakan pemerintah Belanda. Melalui siswa-siswanya, Jamiatul Khair ikut berkontribusi dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah serta melakukan syiar islam ke seluruh nusantara.

Salah seorang guru yang terkenal adalah Syaikh Ahmad Surokati dari sudan. Dia tampil sebagai tokoh pemikiran-pemikiran baru dalam masyarakat Islam Indonesia. Salah satu pemikirannya adalah bahwa tidak adanya perbedaan di antara sesame muslim. Kedudukan muslim adalah sama, baik keturunan, harta, ataupun pangkat beliau tidak menjadi penyebab adanya diskriminasi dalam islam. Pemikiran ini muncul setelah terjadi pertikaian di kalangan masyarakat Arab yang berkaitan dengan hak istimewa bagi kalangan sayyid( gelar yang di sandang bagi mereka yang memounyai garis keturunan dengan Nabi Muhammad SAW). Di antara yang diperdebatkan adalah larangan kawin bagi wanita sayyid dengan orang yang bukan keturunan sayyid. Bila bertemu dengan oaring sayyid, maka orang yang tidak dari keturunan sayyid, baik Arab atau orang Indonesia, harus mencium tangannya. Apabila tidak melakukannya, bisa menimbulkan pertikaian sehingga terjadi perpecahan di kalangan al-Jam’iat Khair.

Organisasi Pembaharuan Islam ini berkantor di daerah Pekojan di Tanjung Priok (Jakarta). Oleh karena perkembangannya dari waktu ke waktu semakin pesat, maka pusat organisasi ini dipindahkan dari Pekojan ke Jl. Karet, Tanah Abang. Organisasi ini dikenal banyak melahirkan tokoh-tokoh Islam, terdiri dari tokoh-tokoh gerakan pembaharuan agama Islam antara lain, Kyai Haji Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), HOS Tjokroaminoto (pendiri Syarikat Islam), H. Samanhudi (tokoh Sarekat Dagang Islam), dan H. Agus Salim. Bahkan beberapa tokoh perintis kemerdekaan juga merupakan anggota atau setidaknya mempunyai hubungan dekat dengan Jamiatul Khair.

Awalnya memusatkan usahanya pada pendidikan, namun kemudian memperluasnya dengan dakwah dan penerbitan surat kabar harian Utusan Hindia di bawah pimpinan Haji Umar Said Cokroaminoto (Maret 1913). Kegiatan organisasi juga meluas dengan mendirikan Panti Asuhan Piatu Daarul Aitam. Di Tanah Abang, Habib Abubakar bersama sejumlah Alawiyyin juga mendirikan sekolah untuk putra (aulad) di Jl. Karet dan putri (banat) di Jl. Kebon Melati serta cabang Jamiatul Khair di Tanah Tinggi Senen.

Pemimpin-pemimpin Jamiatul Khair mempunyai hubungan yang luas dengan luar negeri, terutama negeri-negeri Islam seperti Mesir dan Turki. Mereka mendatangkan majalah-majalah dan surat-surat kabar yang dapat membangkitkan nasionalisme Indonesia, seperti Al-Mu'ayat, Al-Liwa, Al-ittihad, dan lainnya. Tahun 1903 Jamiatul Khair mengajukan permohonan untuk diakui sebagai sebuah organisasi atau perkumpulan dan tahun 1905 permohonan itu dikabulkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan catatan tidak boleh membuka cabang-cabangnya di luar di Batavia.[7]


[1] “Latar Belakang Gerakan Padri, dan Mulanya Dakwah Salaf di Indonesia,”. http://muslimminang.wordpress.com (8 Juni 2017).
[2] “Makalah Gerakan Pembaharuan Kaum Paderi,”.http:// http://muhammadfahmy.blogspot.co.id/2014/10/makalah-gerakan-pembaharuan-kaum-paderi.html?view=mosaic (8 Juni 2017).
[3] “Pembaharuan Di Indonesia; Kaum Padri, Kaum Al-Irsyad dan Jami`Atul Khair,”. http://muhtarom84.blogspot.co.id/2009/12/pembaharuan-di-indonesia-kaum-padri.html (8 Juni 2017)
[4] “Pembaharuan Di Indonesia; Kaum Padri, Kaum Al-Irsyad dan Jami`Atul Khair,”. http://muhtarom84.blogspot.co.id/2009/12/pembaharuan-di-indonesia-kaum-padri.html (8 Juni 2017)
[5] “Gerakan Pembaharuan Dalam Islam Di Indonesia,”  https://icas.academia.edu/WaZilullah (8 juni 2017).
[6] “Pembaharuan Di Indonesia; Kaum Padri, Kaum Al-Irsyad dan Jami`Atul Khair,”. http://muhtarom84.blogspot.co.id/2009/12/pembaharuan-di-indonesia-kaum-padri.html (8 Juni 2017)
[7] “Makalah Gerakan Pembaharuan Islam Jamiatul Khair Dan Perkembangannya,” http://dedikerinci.blogspot.co.id/2014/06/gerakan-pembaharuan-islam-jamiatul.html (8 Juni 2017)





 keterangan : Makalah ini adalah makalah asal jadi alias gak serius karna waktunya mepet kerjanya sekitar tiga jam